Kesetiaan Yang Abadi …
Kesetiaan yang abadi…
Oleh : M. Baihaqi
Janji setia
Saat malam pertama pernikahan, ungakapan kesetiaan “Cinta sehidup semati” sering muncul dibenak dan dibibir mempelai pria maupun wanita. Terkesan gombal memang? Banyak yang tidak percaya dengan ungkapan tersebut. Dan itu biasa, tidak bisa disalahkan, mengingat teramat banyak peristiwa dan kejadian yang mendukung ‘kegombalan’ ungkapan penuh romantis sejenis itu. Bisa jadi karena factor kasus selingkuh salah satu dari pasangan, atau kasus kekerasan dalam keluarga yang kemudian berakhir pada perceraian, atau sekedar perhatian dan kepedulian yang (semakin) berkurang seiring dengan usia pernikahan yang terus berjalan. Bahkan kisah Romeo dan Juliet pun sekedar bunga mimpi pasangan-pasangan yang tengah dimadu asmara, padahal, kisah cinta sejati dua insan itu cuma rekaan Shakespere saja, yang kisah cintanya pun tidak sebagus hasil karyanya. Meski kemudian ada beberapa berita tentang matinya sepasang kekasih karena cintanya ditentang, saya termasuk yang tidak yakin mereka berangkat dari ketulusan yang sama untuk ‘sehidup semati’. Intinya, rasanya tak ada di dunia ini kisah cintanya sehidup semati seperti di komik-komik, cerpen, novel atau film.
Namun, bukan berarti tidak ada kesetiaan yang “cintanya sehidup semati” sesungguhnya. Karena masih ada suami-suami yang mau bangun dimalam hari menggantikan popok bekas ngompol anaknya dan membiarkan istrinya untuk lebih banyak istirahat pulas di malam hari. Di pagi hari, sebelum berangkat kerja, masih ada suami yang mau membantu mencucikan piring atau sekedar menyapu lantai kamar meringankan tugas-tugas kerumahtanggaan istri. Tidak sedikit suami yang pada waktu libur atau senggang ikut berbenah, bahkan memasak, atau memandikan anaknya.
Semua itu muncul dari suatu ketulusan rasa ‘setia’ untuk selalu mendampingi istri dalam keadaan apapun, susah- payah, sedih maupun gembira, diupayakan untuk dilakukan dan ditanggung bersama-sama. Bahkan tidak sedikit orang yang rela meninggalkan keluarga, kelompok masyarakat, dan komunitasnya hanya untuk mempertahankan sikap ‘setia’ kepada pasangan yang selalu dibanggakannya.
Kesetiaan yang hilang
Belajar dari nabi Nuh dan Nabi Luth, ternyata tidak semua orang baik-baik dapat merasakan kesetiaan yang tulus dari pasangannya, untuk selamanya . Mereka harus berpisah meskipun ia seorang nabi, utusan Allah yang selalu berbuat baik kepada orang lain. Allah ceritakan hal ini dalam Al Quran surat At Tahrim ayat 10 : “Allah membuat perumpamaan isteri Nuh dan isteri Luth bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing), maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam).”
Lebih dari itu, Allah juga menyebutkan adanya hamba wanita yang shaleh, istri seorang penguasa yang sangat kuat dimuka bumi ini, juga tidak mendapatkan kesetiaan tulus dari sang suami yang selalu daharapkannya. Tidak ada lagi rasa cinta, rasa sayang dan rasa belas kasihan. Bahkan yang lebih tragis lagi, adalah sang suami itulah yang secara tega dan kejam mengakhiri hidup wanita ini. Allah ceritakan dalam surat yang sama ayat 11: “Dan Allah membuat perumpamaan isteri Fir’aun bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” Dan… Wanita shalihah itupun dibunuh oleh Fir;aun dengan kejamnya.
Kesetiaan yang pernah terukir saat-saat pernikahan, janji ‘sehidup semati’, benar-benar menjadi ucapan ‘gombal’ bagi orang sekelas fir’aun yang tidak kurang apa adanya dalam kebutuhan hidupnya. Pun itu juga terjadi pada wanita yang semula bahagia sebagai istri seorang nabi Lut dan nabi Nuh.
Kunci kesetiaan itu…
Pada saat Rasulullah saw pernah mentalak salah satu istrinya, yaitu Hafsah. Datang seorang malaikat, Jibril kepadanya, beliau menceritakan hal ini dalam sabdanya : ” Sesungguhnya Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Kembalilah kepada Hafsah, sesunggunya ia adalah wanita yang banyak puasa dan shalat malam, dan ia adalah istri anda kelak di surga’”. Sehingga kunci yang dimiliki Hafsah untuk meraih kembali ‘kesetiaan’ dirinya kepada Rasulullah saw, dan untuk mempertahankan dirinya agar selalu bersama nabi itu ada dua: Banyak berpuasa dan sering shalat malam.
Banyak berpuasa, menandakan pengendalian hawa nafsu, amarah, kemungkaran dan kemaksiatan. Puasa menjadikan jiwa kita menjadi bersih dan tunduk hanya kepada Allah swt. Sehingga apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita, tidak akan lepas dari petunjuk Allah dalam menyelesaikannya. Maka kita akan lebih mengedepankan petunjuk daripada keinginan-keinginan yang bersifat personal.
Seringnya shalat malam, menandakan seringnya bermunajat kepada Allah. Meminta dan berdoa akan masa depan yang lebih baik. Karena kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Barangkali pasangan kita nantinya bertambah sakit dan tidak sehat lagi. Atau nanti dia cacat dan jadi lumpuh. Mungkin dia di PHK atau bahkan pergi dengan orang ketiga- padahal kita sudah setia. Parahnya, bila, pasangan hidup kita ternyata memiliki perilaku yang menyimpang.
Karena itu kita membutuhkan doa….disetiap malam. Hanya itulah yang dapat mengubah segala sesuatu dalam hidup. Kadang kita tidak mengerti rencana Tuhan. Namun saya yakin pasti ada sesuatu yang indah- yang tengah Ia persiapkan buat diri kita. Mari kuatkan hati. Kita harus melalui badai hidup. Dan pada akhirnya kita pasti akan melihat ‘pelangi yang indah’ sehabis hujan dan badai. Wallahu a’lam bis shawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar